Kamis, 02 Mei 2013

BUDIDAYA BAWANG MERAH

Bawang merah (Allium cepa L. Kelompok Aggregatum) adalah sejenis tanaman yang menjadi bumbu berbagai masakan Asia Tenggara dan dunia. Orang Jawa mengenalnya sebagai brambang. Bagian yang paling banyak dimanfaatkan adalah umbi, meskipun beberapa tradisi kuliner juga menggunakan daun serta tangkai bunganya sebagai bumbu penyedap masakan. Tanaman ini diduga berasal dari daerah Asia Tengah dan Asia Tenggara.
Manfaatnya:  Bawang goreng adalah bawang merah yang diiris tipis dan digoreng dengan minyak goreng       yang banyak. Pada umumnya, masakan Indonesia berupa soto dan sup menggunakan bawang goreng sebagai penyedap sewaktu dihidangkan.

Banyak orang berpendapat, bawang merah merupakan tanaman yang hanya cocok di dataran menengah hingga tinggi. Hal ini tidak mengherankan karena sentra bawang merah tanah air kebanyakan yang berada di dataran menengah. Pendapat ini sebenarnya sangat keliru, karena bawang merah sebenarnya merupakan tanaman dataran rendah hingga menengah. Tanaman ini hanya tumbuh dengan optimal pada ketinggian 
0 - 800 meter dpl.
Kekeliruan yang kedua mengenai bawang merah adalah tanaman ini tidak berbiji. Ini juga salah besar, tanaman bawang merah ternyata berbiji, dan dapat dikembangkan dengan biji selain umbi. Hanya memang tanamannya jarang berbiji (meskipun berbunga), karena untuk berbiji, diperlukan suhu udara ±5oC secara konstan.
Pengembangan bawang merah dengan biji mulai banyak peminatnya. Hal ini disebabkan, budidaya bawang merah asal biji lebih rendah biaya produksinya dengan produksi yang lebih tinggi. Dengan demikian, keuntungan yang diperoleh juga lebih tinggi. Bawang merah asal biji juga cocok dikembangkan di dataran rendah bahkan tepi pantai. Hanya dengan lahan seluas kurang dari 150 ubin (2.100 m2), diperoleh hasil ±6 ton umbi basah, meskipun baru pertama kali mencobanya.
Untuk mencapai produksi ini ternyata tidak terlalu sulit, hanya dengan melaksanakan 5 (lima) langkah berikut, siapapun dapat mendapatkan produksi bawang merah yang optimal.

a). Pengolahan Lahan Sempurna
Pengolahan lahan dilakukan sedemikian rupa sehingga tanah benar-benar remah sehingga mendukung pertumbuhan umbi. Tanah yang sudah diolah, dibuat guludan-guludan dengan lebar 1 m (panjang menyesuaikan panjang lahan). Tambahkan pupuk kandang matang halus sebanyak ±50 kg untuk guludan sepanjang 15 m. Tambahkan pula arang sekam, atau bila tidak ada dapat menggunakan abu sekam. Penambahan pupuk SP-36 secukupnya juga dapat dilakukan. Selain itu, perlu ditambahkan Furadan 3G untuk lahan-lahan yang banyak terdapat ulat tanah (Aglotis ipsilon).

b). Pesemaian Berhasil, Separuh Langkah Menuju Keberhasilan
Penyemaian biji bawang merah dilakukan dengan membuat lajur-lajur memotong panjang guludan dengan jarak antar lajur 10 cm. Benih ditabur secara merata pada lajur dengan kedelaman 1 cm, tutup dengan arang sekam atau pupuk kandang tipis. Tutup guludan semaian dengan jerami, kemudian lakukan penyiraman secara rutin setiap hari. Setelah disemai selama 4 - 5 hari, benih mulai tumbuh. Jerami dapat dipindahkan dari guludan, namun bibit muda masih perlu dinaungi supaya tidak terkena sinar matahari langsung.  Setelah bibit berumur 20 - 25 hari, naungan sudah tidak diperlukan. Bibit telah cukup kuat untuk terkena sinar matahari langsung. Dan pada umur 40 - 45 hari, bibit dapat ditanam di lahan. Penanaman dilakukan dengan jarak tanam (5 - 10) x (5 - 10) cm. Ketika melakukan penanaman, sebaiknya lahan digenangi air, supaya bibit lebih cepat tumbuh.

 c). Pemupukan Tepat Berimbang, Bukan Banyak
Prinsip pemupukan bawang merah adalah pupuk tepat berimbang. Kandungan unsur hara makro dan mikro harus memenuhi kebutuhan tanaman. Unsur-unsur makro N-P-K harus memenuhi unsur 16-16-16 atau setidaknya 16-16-11. Sedangkan unsur mikro cukup menggunakan pupuk mikro sesuai dosis yang dicampur dengan pupuk makro.  Pemupukan dilakukan sebanyak 3 - 4 kali, dimulai pada saat tanaman berumur 2 - 4 minggu setelah tanam, dengan selang waktu 2 - 3 minggu sekali. Pemupukan cukup ditabur secara merata, dengan jumlah kebutuhan pupuk sebanyak 150 - 200 kg pupuk N-P-K/ha/pemupukan.

d). Kendalikan Gulma (Rumput) Semenjak Dini
Pemupukan yang intensif mendatangkan dampak negatif, yaitu munculnya gulma dalam jumlah yang besar. Pengendalian gulma sebaiknya dilakukan semenjak dini. Lakukan pencabutan pada gulma-gulma yang baru tumbuh, jika diperlukan, semprotkan herbisida yang mematikan biji gulma pada saat tanaman bawang merah sudah ditanam beberapa minggu.

e).Pengendalian Hama dan Penyakit Segera
Produksi bawang merah seringkali terganjal oleh munculnya hama dan penyakit. Munculnya organisme pengganggu tanaman ini seringkali menghambat pertumbuhan, produksi, bahkan mematikan tanaman bawang merah. Hama dan penyakit yang sering menyerang tanaman bawang merah, antara lain, ulat grayak (Spodoptera exigua dan S. litura), penyakit bercak ungu (Alternaria porri), dan penyakit bercak putih (Phytophtora porri).  Ulat grayak biasanya hidup di dalam daun bawang merah pada stadia awal, setelah berukuran cukup besar baru muncul keluar. Namun pada saat itu, kerusakan pada tanaman sudah sangat serius. Pengendalian ulat grayak sebaiknya dilakukan pada saat mulai muncul gejala gigitan pada daun. Saat mulai muncul gejala, segera potong daun dan amati apakah ada ulat grayak di dalamnya. Penyemprotan dengan insektisida seperti Biothion atau Crumble, dapat mengendalikan ulat grayak.  Penyakit bercak ungu dan bercak putih juga dapat menyebabkan kerusakan dan kematian dalam waktu singkat. Pengendalian kedua penyakit ini dapat dilakukan dengan fungisida yang berbahan aktif Mancozeb, misalnya 
Dithane M-45, Delsene, Manzate, dan sebagainya. Tanaman yang sudah terserang serius, sebaiknya segera dicabut dan segera dimusnahkan.

 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar